Find What You Search!

Thursday, 17 May 2012

Agak Telat Ya... Resensi Negara Kelima


Judul Buku      : Negara Kelima
Pengarang       : E.S. Ito
Penerbit           : Serambi
Tauhn Terbit    : 2005
Tebal Isi          : 518 Halaman + cover

Jika sebelumnya saya sudah membahas mengenai novel berjudul Rahasia Meede karya E.S. Ito, kali ini saya akan mencoba mengulas novel pertama Bung Ito yang berjudul Negara Kelima. Pada halaman awal, langsung tertulis sebuah quote yang ditulis oleh E.S. Ito sendiri.

Ibu, aku ingin mengubah bintang.”


Dari quote itu, saya sudah memastikan kalau buku ini adalah buku yang mengubah bintang. Dalam arti lain, penuh dengan imajinasi yang dapat mengubah pemikiran pembaca.

Raganya Indonesia
Tetapi jiwanya tidak lagi nusantara

Satu kelompok berkuasa
Sisanya pengaya saja

Sebagian kecil kelompok kaya
Sisanya menanggung derita

Bubarkan Indonesia
Bebaskan Nusanata
Bentuk Negara kelima

-Kelompok Patriotik-

Pertama kali bait-bait provokatif itu muncul pada tanggal 18 Agustus. Satu hari setelah perayaan kemerdekaan Indonesia. Muncul begitu saja mengganti seluruh tampilkan halaman web situs-situs milik pemerintah . Halaman web-nya diganti, bendera merah putih digantikan dengan peta nusantara dengan lingkup yang lebih besar. Setiap kata “Indonesia” diganti dengan “Nusantara”. Selain Kelompok Patriotik, tidak ada lagi penjelasan mengenai pelaku pembajakan situs internet ini.

Setelah aksi pertamanya pada tanggal 18 Agustus itu, mereka kembali berulah pada tanggal 20 Agustus dengan cara menjebol dua bank milih pemerintah hingga terjadi rush. 23 Agustus, mereka menjebol sistem komputerisasi Bandara Soekarno-Hatta dan semua penerbangan hari itu ditunda. 1 September, giliran Plasa Senayan dan Plaza Semanggi yang diserang. Sistem peringatan kebakaran menyala mendadak dan menimbulkan kepanikan. 6 September, kekacauan kembali terjadi. Kekacauan telekomunikasi melanda seluruh kawasan Divisi Regional I PT Telkom Indonesia. Tidak ada telepon yang tersambung, hanya sebuah nada sambung yang berbunyi, “Bebaskan Indonesia, bebaskan Nusantara, bentuk Negara Kelima.”

Polisi menamai Kelompok Patriorik ini sebagai Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad). Tindakan kriminal yang pada awalnya dianggap hanya tindakan kelompok amatiran kini telah menimbulkan kecemasan tingkat tinggi. Kasus ini pada akhirnya jatuh ke tangan Detasemen Khusus Antiteror Polda Metro Jaya. Pada akhirnya, polisi berhasil menemukan tempat di mana mereka bersembunyi, di sebuah rumah kontrakan di kawasan Pantai Indah Kapuk.

Saat penyergapan, polisi hanya berhasil menangkap dua anggota mereka. Saat di interogasi, mereka malah mengatakan hal-hal yang tidak jelas. Jika mereka menuntut pembentukan Negara Kelima, berarti ada empat negara yang sebelumnya sudah terlaksana, bukan begitu? Maka dari itu, para polisi bertanya, tetapi deskripsi tentang lima negara itu terdengar seperti teka-teki.

Dalam tempo 48 jam, tiga orang gadis remaja terbunuh. Beberapa hari kemudian, Inspektur Satu Rudi Djatmiko yang menyelidiki kasus itu juga terbunuh. Satu-satunya petunjuk  dari pembunuhan itu adalah simbol pyramid dengan belahan diagonal pada bagian alasnya yang digoreskan pada tubuh korban. Timur Mangkuto, seorang Inspektur kepolisian harus kabur bersama rekan kerjanya, Genta. Timur dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Selain itu, ia juga dituduh sebagai anggota KePaRad.

Dalam pelariannya, Timur Mangkuto bersama Genta bertemu dengan Eva Duani, seorang sejarawati. Mereka bersama mencoba memecahkan teka-teki negara pertama sampai dengan negara keempat. Dibantu dengan Profesor Sejarah Duani Abdullah, mereka mulai menemukan titik terang.

Teka-teki tersebut menuntun mereka menguak misteri tenggelamnya Atlantis. Hingga mereka sampai pada satu kesimpulan: Atlantis adalah Nusantara purba, dan KePaRad bertujuan untuk membangkitkan kejayaan Atlantis.

Sejarah adalah bahan bakar, anak muda adalah apinya. Tabir-tabir sejarah dikuak dalam novel ini. Mulai dari sejarah Atlantis, kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, sejarah penaklukan Alexander The Great, kitab Minangkabau ‘Tambo’, Ken Arok, Timaeus and Critias, hingga PDRI dan Konstelasi Capricornus.

Semua cerita-cerita sejarah itu dirangkai menjadi satu dan menjadikan sebuah fakta mengenai tenggelamnya Atlantis di Indonesia. Lantas, apakah Timur Mangkuto dapat membersihkan namanya? Mending langsung baca aja buku ini. Novel ini menyuguhkan ketegangan dan alur cerita yang terus mengalir.

Walaupun saya sangat suka dengan novel ini, tetapi tetap saja ada kelemahan novel ini. Seperti data sejarah yang kurang akurat, dan hal-hal lain yang dianggap tidak logis dan terlalu mengada-ada.

Inti dari novel ini sebenarnya tertulis di bagian akhir buku.

“Nusantara ini bukan sekadar serpihan bekas kolonial Belanda! Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri-negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri-negeri selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjangnya sendiri.”

However, saya tetap salut untuk E.S. Ito. Tetap menulis, Bung!

No comments:

Post a Comment