Find What You Search!

Monday, 21 May 2012

Nyimak: Werther Effect, Sebuah Kasus Copycat Suicide


Seorang pria berumur 20 tahun bunuh diri menggunakan pistol karena ingin meniru gaya bunuh diri Kurt Cobain. Awalnya ia tidak berniat melukai dirinya. Ia hanya menggenggam pistol dan mengarahkannya ke kepalanya lalu ia berkata kepada temannya yang ada di situ, “Lihat, aku seperti Kurt Cobain!” Dan tiba-tiba ia tidak sengaja menarik pelatuk pistol tersebut.
Para ahli khawatir bahwa bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang terkenal dapat memicu sebuah copycat suicide atau bunu diri yang meniru orang sebelumnya.

Namun kekhawatiran beralih pada cara bunuh diri Marlyn Monroe. Sebulan setelah kematian Marlyn Monroe yang diduga bunuh diri dengan meminum obat-obatan hingga overdosis, kurang lebih 200 orang mengikuti langkahnya ke alam baka dengan cara yang sama.

Namun, ternyata kasus copycat suicide terbesar bukanlah disebabkan oleh Kurt Cobain atau Marlyn Monroe. Melainkan karena anak muda bernama Werther. Karena ingin meniru cara bunuh diri Werther, 2000 pemuda Eropa melakukan copycat suicide.

Tapi siapakah Werther itu? Penyanyi? Bukan. Aktor? Mustahil. Pejabat? Tak mungkin. Jadi apa kedudukannya hingga orang-orang nekat meniru gaya bunuh dirinya? Mungkin Anda akan kaget jika saya katakan bahwa pemuda Werther itu adalah TOKOH DI DALAM NOVEL.
Ya, Werther hanyalah tokoh dalam  novel The Sorrow of Young Werther karya Johann Wolfgang von Goethe.

Bagaimana bisa sesosok tokoh dalam novel yang jelas-jelas hanya rekaan bisa memengaruhi orang sebanyak itu?

Sebelumnya, mari kita ketahui dulu novel The Sorrow of Young Werther.

The Sorrow of Young Werther (Penderitaan Pemuda Werther) adalah buku novel yang berisi kumpulan surat-surat Werther. Werther sendiri adalah seorang seniman muda yang temperamen namun cerdas dan suka merenung. Dalam surat-suratnya, ia mengisahkan tentang kehidupannya tinggal di Wahlheim. Disanalah dia bertemu gadis muda yang menarik hatinya, Charlotte dan ia pun jatuh hati padanya.

Tapi pemuda bernama Werther ini rupanya memegang prinsip, “Sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan.” Sekalipun Charlotte sudah bertunangan dengan Albert yang 11 tahun lebih tua, Werther tetap mencintai Charlotte. Charlotte yang baik hati dan pengertian, rupanya tahu bahwa Werther memiliki rasa suka kepadanya.

Selama beberapa bulan, Werther mencoba tetap dekat dengan Charlotte. Akhirnya, Albert, Werther, dan Charlotte menjadi teman yang suka bertemu. Walau ia merasa sangat sakit hati, ia tetap berusaha tegar.

Tetapi, karena rasa sakitnya semakin besar, ia pun memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat bersama Weimar. Karena suatu sebab, Werther lantas kembali ke Wahlheim. Disana lah, segalanya menjadi terasa sulit bagi Werther. Segalanya yang ada disana semakin membuat dirinya tersaikiti. Karena gadis yang ia cintai sudah mengingkat janji dengan Albert yang menjadi pendamping hidupnya.

Charlotte yang merasa kasihan kepada Werther, dan juga berusaha untuk menghormati suaminya segera berkata kepada Werther supaya Werther jangan lagi bertemu dengannya. Ia tidak mau Werther semakin sakit hati melihat Charlotte dan Albert terus bersama karena mereka berdua telah menikah.

Werther pun berpikir apakah ia harus membunuh Albert, Charlotte, atau bahkan dirinya sendiri. Tetapi karena ia tidak tahan jika harus dicap sebagai pembunuh, Werther pun membunuh dirinya sendiri. Namun, malang bagi Werther, pemakamannya pun sangat sepi. Hanya pelayan dan anak angkatnya yang mengiringinya jenazahnya. Albert dan Charlotte pun tidak menghadiri pemakamannya. Seperti yang tertulis di bagian akhir bukunya: The steward and his sons followed the corpse to the grave. Albert was unable to accompany them. Charlotte's life was despaired of. The body was carried by labourers. No priest attended.

Yang jika di artikan akan menjadi: Hanya anak-anak dan pelayannya yang menghadiri pemakamannya. Albert sibuk dan tak bisa hadir. Charlotte sedang dilanda kesedihan. Werther dikuburkan oleh para buruh. Tidak ada pendeta yang mendoakannya.

Sungguh menyedihkan…

Kita kembali ke kasus Werther di dunia nyata.

The Sorrow of Young Werther tersebut diterbitkan pertamakali pada tahun 1774 dan memiliki banyak penggemar di daratan Eropa. Sejak diluncurkannya novel tersebut, para pemuda banyak yang meniru gaya berpakaian Werther, yaitu jaket biru panjang, celana panjang kuning dan baju berkerah terbuka.

David Phillips

Begitu populernya novel ini diantara kalangan galauers Eropa pada masa itu, bahkan hampir (kalau saya nggak salah ingat) ada 2000 pemuda galau Eropa melakukan bunuh diri dengan cara yang sama  seperti apa yang Werther lakukan untuk mengakhiri hidupnya: Menembakkan pistol dikepala, ketika cinta sudah kandas didepan mata. Hingga pada tahun 1974, David Philips, peneliti yang meneliti kasus bunuh diri imitasi (copycat suicide) menamakan fenomena bunuh diri tersebut dengan sebutan Werther Effect.

Bahkan, para pelaku bunuh diri pengidap Werther Syndrom, kerap kali berpakaian yang sama persis seperti yang Werther kenakan dalam novelnya. Atau sang pelaku bunuh diri tersebut meletakkan bab novel yang menceritakan bagaimana Werther mengakhiri hidupnya. Inilah alasan saya menjuluki kasus bunuh diri imitasi ini sebagai kasus bunuh diri paling aneh dan paling mengerikan yang pernah saya tahu. Bayangkan saja, Werther HANYALAH tokoh dalam NOVEL yang FIKTIF, bagaimana bisa ada begitu banyak orang galau yang menyukai dirinya dan berpakaian sama seperti dirinya sebelum akhirnya menembakkan pistol di kepalanya.

Begitu kuatnya pengaruh tulisan Goethe itu sehingga dalam kajian mengenai bunuh diri dikenal Werther effect. Istilah ini digunakan untuk menyebut pengaruh tulisan atau pemberitaan yang memicu bunuh diri ikutan.

Pemerintah Inggris pernah melarang pemberitaan detil mengenai cara orang membunuh diri untuk menghindari apa yang disebut sebagai Werther Effect itu. Bahkan banyak negara-negara di Eropa yang melarang penerbitan buku tersebut karena banyak orang yang mengikuti jejak Werther.

Dari kasus ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran. Bukan, bukan sebuah kesimpulan, melainkan sebuah saran dari saya. Ini adalah saran saya kepada pemuda galau yang ada di dunia (terutama Indonesia). Hidup itu harus dijalani dengan benar-benar. Jangan pernah membuat sebuah kejadian tragis di masa lalu menjadi penghambat bagi kita untuk maju.

Ingat kata-katanya Chicken Little, “Setiap hari adalah hari baru!” Atau kata-katanya Spongebob, “Aku siap! Aku siap!” yang terus dikatakannya setiap pagi. Seharusnya itu juga yang dilakukan oleh pemuda-pemuda galau masa kini. Putus cinta bukan berarti putus segalanya.

“Nobody can go back to the beginning and make a new start. But everyone can start today and make a new ending” ~Maria Robinson

So, ayo kita jangan putus asa atas apa yang telah terjadi! Ayo bangkit kaum muda!

(bagi yang ingin membaca buku  The Sorrow of Young Werther secara online, silakan klik link ini)

1 comment:

  1. gaada yang pake bahasa indonesianya :(

    ReplyDelete