Find What You Search!

Saturday, 10 September 2011

Aku Ingin Membahas 'Rahasia Meede'




Pengarang       : E.S. Ito
Penerbit           : Mizan Hikmah
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Agustus 2007
                          Cetakan 2, Oktober 2007
                          Cetakan 3, April 2008





"Sastra Indonesia dientak keras oleh terbitnya [Rahasia Meede]..."
komentar tersebut tidak main-main. Novel Rahasia Meede ini menurut saya cukup bagus. Dengan alur yang berlika-liku, penceritaan sejarah yang hebat, dan intrik-intrik di dalamnya membuat saya terkesan.
Novel kedua yang ditulis E.S. Ito ini berjudul ‘Rahasia Meede’ dan mempunyai sub-judul ‘Misteri harta karun VOC’. Seperti novel pertamanya, yaitu ‘Negara Kelima’, di bukunya yang kedua ini Bung Ito kembali menyusun data-data sejarah dalam bentuk cerita fiksi. Jika dalam novel ‘Negara Kelima’ Bung Ito menceritakan tentang sejarah Atlantis, di buku ‘Rahasia Meede’ ini ia menceritakan tentang sejarah harta karun VOC.


Novel ini tersusun atas 73 Bab ditambah Prolog dan Epilog masing-masing satu. Prolog di novel ini menceritakan keadaan di Den Haag bulan November 1949, tempatnya saat dilaksanakan Konferensi Meja Bundar (KMB). Dalam konferensi ini, Belanda memberikan keputusan kepada Bung Hatta dan anggota delegasi lainnya agar Indonesia membayar hutang kepada Belanda sebesar 4,3 miliar gulden, setara dengan 1,13 miliar dolar Amerika. Sumitro, salah satu pemuda yang mengikuti konferensi menolak hal ini. Ia tidak terima dengan keputusan dari Belanda. Belanda yang menjajah, tetapi Indonesia yang harus membayar kepada Belanda. Pada malam harinya, seorang lelaki misterius menemui Hatta dkk di tempat mereka menginap. Lelaki itu lalu menyerahkan sebuah kertas coklat pudar yang berisi sebuah denah. Setelah menyerahkannya, ia berkata, “Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heft niets te verliezen” yang artinya kurang lebih, “Terima saja perundingannya. Indonesia tidak akan rugi.”


Nah, kita lalu langsung meloncat ke masa kini, sekitar 50 tahun setelah kejadian di atas. Di masa kini, tiga orang peneliti dari Belanda menemukan ‘De Ondergrondse Stad’ atau lorong bawah tanah di perut bumi Jakarta. Sementara itu, di atas, pembunuhan berantai terjadi. Satu per satu orang penting dari Jakarta ditemukan tewas di tempat-tempat yang berawalan huruf B. Seorang wartawan muda harian Indonesiaraya bernama Batu Noah Gultom berusaha menyelidiki kasus pembunuhan berantai tersebut.

Cathleen Zwinckel adalah pendatang lain dari Belanda. Mahasiswa pascasarjana di Universitas Leiden itu mengaku tengah menyelesaikan thesis Master-nya tentang Sejarah Ekonomi Kolonial. Oleh profesornya, ia dititipkan pada CSA, sebuah lembaga think-thank terkemuka di Jakarta. Tetapi diam-diam ia memiliki agenda lain. Gadis cantik itu datang juga untuk mengungkap misteri ratusan tahun. Oleh profesornya, ia diminta untuk memecahkan misteri Surat Kew yang dikeluarkan oleh William V pada tahun 1795. Surat yang akan menuntunnya pada misteri terbesar yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik, Het Geheim van Meede, Rahasia Meede. Kunci misteri itu ada pada sosok Suhadi, seorang arsiparis senior Arsip Nasional Republik Indonesia. Tetapi tugas itu tidak semudah yang disangka Cathleen. Seseorang menculiknya ke sebuah pulau rempah-rempah. Laki-laki muda di balik penculikan itu bernama Kalek. Buronan nomor satu yang sempat dinyatakan tewas, dalang di balik peristiwa penyerbuan bersenjata dan kematian orang-orang bertato pada tahun 2002.

Pembunuhan berantai itu tidak berhenti. Tetapi Batu mulai bisa mencium jejak pembunuhnya. Tetapi di tengah-tengah penemuan itu, Parada Gultom, redaktur yang membawahi Batu di Indonesiaraya hilang tanpa jejak. Sementara di balik ketegangan itu seorang guru biasa dipanggil Guru Uban hidup dalam kedamaian di Bojonggede. Tetapi di balik penampilan tenang, ia menyimpan sebuah rahasia.

Beragam misteri lama kelamaan mulai terungkap. Pembunuhan berantai, kota bawah tanah, surat Kew, Monsterverbond, Erberveld, Dokumen Sabda Revolusi, Deandels, Meede, hingga berujung pada satu misteri: harta karun VOC.

Siapakah dalang dibalik semua ini? Menjelajahi Jakarta, terbang ke Brussel dan Belanda, pergi ke Banda, menyeberangi Papua, teka-teki Nabi Musa dan Khidr, hingga bertualang ke pedalam Siberut, Mentawai. Tampaknya E.S. Ito sangat serius dalam membuat novel ini. Ia harus pergi ke pedalaman Siberut, dan Boven Digoel serta meneliti arsip-arsip nasional RI serta berdiskusi dengan para pelaku sejarah.

Sebelum saya akhiri, akan saya berikan beberapa potongan dari novel Rahasia Meede:

~Pangkal pipi kanannya sobek hingga gigi belakangnya jelas terlihat.~   –hal.14-
~”Maksudmu, Ciliwung itu sumber air minum?” Erick bergidik jijik…~   -hal.25-
~Setelah itu, dia tidak merasakan apa-apa lagi. Dia berada di dalam dimensi empat. Dunia hening yang tidak mungkin ditembus sembarang orang~   -hal.295-
~La Parilla, rak besi itu mengalirkan arus listrik. Pada rangka besi itu, orang-orang yang dianggap berseberangan dengan Pinochet diestrum dari kepala hingga ujung kakinya~   -hal.254-
~Badai menghajar Ibu Kota tanpa ampun. Angin kencang menumbangkan puluhan pohon di jalan protokol.~   -hal.388-
~Mereka tidak berani menghadapinya. Melawan Kakehan artinya menebar benih kutukan seumur hidup~   -hal.368-
~Sebenarnya dia telah mati, tetapi malaikat maut masih enggan menjemput.~   -hal.496-
~Dia tidak mengerti sosok apa yang tengah dihadapinya. Pikirannya mengatakan itulah Mephistopheles.~   -hal.192-
~Dialah orangnya, Kapten Kapal The Flying Dutchman. Hantu yang paling ditakuti setiap pelaut yang melalui Tanjung Harapan.~   -hal.211-
~…Doni menggosok-gosok matanya, memastikan bahwa fenomena itu memang terjadi. Dia tidak salah, puncak emas Monas perlahan ambruk ke bawah.~   -hal.572-
~”Bunyikan alarm dan sirine. Mungkin ini bakti terakhir kita pada Ibu Pertiwi.”~   -hal.573-

No comments:

Post a Comment