Find What You Search!

Friday, 13 January 2012

Novel: Digital Fortress (Benteng Digital)

Judul: Benteng Digital (Digital Fortress)
Pengarang: Dan Brown
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Tebal: 600 halaman
Terbit: 25 Mei 2005

NSA, National Security Agency dicekam oleh teror. NSA disandera. Bukan oleh bom, senjata, ataupun rudal, melainkan oleh sebuah kode. Kode yang diberi nama Digital Fortress—Benteng Digital itu tidak bisa dipecahkan. Sebuah alogaritma yang mustahil.
TRANSLTR, sebuah komputer super canggih seharga 1,9 miliar dolar yang dapat memecahkan kode apapun dalam waktu cepat pun kini membuat orang-orang NSA kecewa. Waktu terlama yang dibutuhkan TRANSLTR untuk memecahkan kode adalah tiga jam. Itu pun merupakan tes diagnostik dan hal-hal rumit lainnya. Tetapi kini mereka tercengang. Run-Monitor menunjukkan, TRANSLTR telah berusaha memecahkan kode itu…selama 18 jam, dan belum berhasil.

Trevor Strathmore, wakil direktur NSA mengundang Susan Fletcher, salah satu kepala NSA untuk memecahkan sandi ini. Mereka sudah mengetahui, bahwa Ensei Tankado-lah yang ada di balik semua ini. Pria Jepang yang pernah masuk lalu keluar dari NSA itu kembali untuk meneror. Ia mengancam akan menyebarkan alogaritma tak terpecahkan ini jika NSA menyembunyikan masalah TRANSLTR ini dari publik.

Mereka ingin berunding dengan Ensei Tankado. Tetapi itu tidak bisa. Tankado telah meninggal…karena serangan jantung.

Tokoh-tokoh bermunculan, alur-alur terus berkelok-kelok. Musuh yang sebenarnya, dan kawan yang sebenarnya. Hitam dan putih bercampur menjadi abu-abu. Selisih paham antara privasi individu dan keamanan nasional. NSA terancam. Jika alogaritma ini tersebar luas ke publik, maka kode yang mustahil dipecahkan akan menjadi kode standar dan menyulitkan NSA dalam memecahkan sandi para penjahat.

Tanpa sepengetahuan Susan, Strathmore memerintahkan David Becker, tunangan Susan, untuk pergi ke Spanyol mendapatkan kode pembuka Benteng Digital milik Ensei Tankado. David Becker bertemu banyak orang pada perjalanannya, mulai dari anak muda pemabuk bernama Two-Tone, sampai pembunuh bernama Hulohot.

Nyawa dipertaruhkan, kehormatan menjadi perjudian, cinta harus direlakan, untuk dua kata: Keamanan Nasional. Dapatkah Susan, Strathmore, David, Chartrukian, Fontaine, dan yang lainnya berhasil mengamankan negara?

Novel yang ditulis oleh Dan Brown ini menurut saya menegangkan. Mengkombinasikan teknologi dengan thriller, novel ini membuat pembaca tersadar bahwa terkadang privasi individu harus dikorbankan demi keamanan negara. Selain itu, kini kita tahu, bahwa privasi itu sudah tidak ada lagi.

Dalam pendapat saya, alur cerita novel ini membuat kita terus menebak-nebak. Menebak, siapakah si jahat? Siapakah si baik? Apa tujuan si jahat? Apa tujuan si baik? Semuanya dicampuradukkan dengan sangat canggih oleh Dan Brown.

Bagi Anda yang suka dengan kode-kode, cerita detektif, ataupun bacaan mengenai teknologi, saya menyarankan buku ini untuk Anda baca.

Salam tanpa lilin, Phoenix Writer…

No comments:

Post a Comment