Find What You Search!

Friday, 30 March 2012

Ingin Sedikit Menulis Tentang "Tomcat"



Saat ini, sedang ada sebuah peristiwa menarik yang cukup marak. Apa itu? Apa lagi kalau bukan naiknya harga BBM. Tetapi tentu saja saya tidak akan membahas BBM kali ini, melainkan mengenai seekor serangga imut bernama Tomcat. Mengapa saya tertarik untuk membahasnya? Karena saya tertarik untuk membahasnya. Dan entah kenapa ada suatu ketertarikan yang membuat saya ingin menulisnya. Tetapi alasan saya untuk menulisnya hanya karena saya tertarik. Dan rasa ketertarikan inilah yang mentoring saya untuk membahasnya. Selain karena tertarik untuk membahas, saya juga sangat tertarik untuk menulis dan mengulas tentang si Tomtom ini karena… (Suara di MUTE)


Nah, mengapa saya tertarik? Karena…(PLEASE! JANGAN BAHAS ITU LAGI!!) Ehem, begini, karena saya melihat sebuah event di masyarakat yang saya anggap merupakan sebuah histeria massa. Mungkin lebih tepat jika disebut efek psikologi massa. Efek di mana seseorang terpengaruh oleh keadaan orang lain yang membuat seseorang tersebut ikut merasakannya jika itu terjadi.

Contohnya (yang saya dapatkan di sebuah novel), jika ada dua puluh orang yang ditanyai apakah mereka setuju jika rambut seluruh siswa SMP Indonesia wajib cepak, maka dua puluh orang tersebut akan bingung. Tetapi jika ada lima orang saja yang meneriakkan kata setuju, maka lima belas sisanya biasanya akan mengikut kepada lima orang itu. Singkatnya, seperti yang terjadi pada sistem “Quick-count” saat Pemilu.
Begitu pula yang terjadi pada kasus Tomcat. Percayalah jika saya katakan bahwa Tomcat itu tidak berbahaya.

Kulit Anda mungkin akan gatal, tetapi tidak melepuh.

Mengapa saya dapat mengatakan hal tersebut?

Karena Guru Besar Entomologi (Ilmu Serangga) IPB, Soemartono Sosromarsono kepada itoday pernah mengatakan, "Tidak bisa diterima logika, jika dikatakan racun Tomcat sepuluh kali lebih keras dari ular kobra. Racun kobra masuk ke dalam darah sementara racun Tomcat hanya ada di kulit, itupun jika tergosok. Jika kena kulit hanya kemerahan saja, sama sekali tidak melepuh seperti diberitakan media,"

Menurut Soemartono, racun Tomcat tidak akan menempel di kulit manusia jika tubuh Tomcat tidak rusak atau pecah. "Racun Tomcat akan keluar jika tubuh Tomcat dipencet atau terpencet. Saat terpencet, tubuh Tomcat pecah sehingga racun keluar. Saya sering pegang, buktinya tidak ada apa-apa," ungkap Soemartono.

Menurut saya ini hanya sebuah sugesti massal. Serangga Tomcat sudah ada sejak lama di areal sawah. Tetapi karena habitatnya yang berkurang, mereka berpindah ke rumah warga. Warga yang melihat hewan itu segera membunuhnya, dan saat itulah cairan Tomcat mengenai kulit warga dan menyebabkan mereka yang tidak biasa di sawah akan gatal-gatal.

Oke, gatal-gatal itu mungkin buruk. Tetapi, karena sudah tertanam sugesti bahwa itu adalah racun berbahaya (yang juga dilebihkan oleh Stasiun-stasiun Televisi), maka orang akan takut melihat Tomcat. Mereka pun langsung memukulnya dengan cara memukulnya yang akhirnya menyebabkan getah Tomcat mengenai kulit mereka dan menyebabkan gatal-gatal.

Setelah terkena gatal, orang tadi pasti akan menuduh bahwa Tomcat-lah yang me”racuni”nya. Saat sedang gatal-gatal itulah, ia akan bertindak berlebihan karena dicekoki pemikiran yang sudah berlebih.


Tomcat sejatinya merupakan sahabat petani karena dia itu makanin hama. Tetapi mungkin, karena terjadi ketidakseimbangan rantai makanan atau mungkin karena sawah-sawah sudah pada hilang, Si Tomtom ini jadi pindah ke rumah-rumah warga. Tapi dia ga bahaya kok. Kalo mau nyapa silakan aja, asal jangan lirik-lirikan, entar lama-lama PDKT dan ....(TOPIC STOPPED)

Begitulah pemikiran saya mengenai kasus Tomcat ini. Tolong jangan blokir blog ini jika saya salah. Mungkin saja Tomcat yang sekarang sudah berevolusi dan memang benar-benar beracun? Itu memang mungkin. Tetapi, percayalah, bahwa tulisan panjang lebar saya di atas tadi juga mungkin.

Jadi kesimpulan dari peristiwa ini adalah:
1.       Jangan cepat terpengaruh sugesti yang kiranya merugikan.
2.       Jangan cepat percaya pada TV, apalagi iklannya.

Terimakasih karena sudah membaca. Jumpa lagi di tulisan selanjutnya…


sumber: forum-kompas

No comments:

Post a Comment