Find What You Search!

Thursday, 5 July 2012

Lafadz 'Insya Allah' Jangan Disalahartikan!!!

(Sebelumnya, terimakasih bagi pengurus blog www.apakabardunia.com dan www.konsultasisyariah.com yang lewat tulisannya tanpa sengaja dapat memicu saya menulis ini.)

Belum pernah saya menulis judul hingga menggunakan tiga tanda seru. Sebenarnya ada apa dengan lafadz Insya Allah? Tidak ada yang salah. Hanya saja, kita sering salah mengartikannya. (Di Indonesia, banyak kesalahpahaman seperti ini. Di negara lain saya kurang tahu) Suatu hari, saat saya masih kecil (entah umur berapa), saya melihat sebuah adegan di sebuah FTV (mungkin sinetron, saya agak lupa).

Dalam adegan tersebut, terlihat seorang kaya sedang meminjamkan uang kepada seorang ibu miskin. Si kaya berkata, "Ibu jangan main-main! Duit segini banyak, yakin bisa ibu kembalikan?" Sambil menangis, sang ibu berkata, "Insya Allah akan saya kembalikan semuanya." Si kaya murka dan berkata, "Jangan ngomong Insya Allah! Kalau ga bisa balikin ya jangan minjem!"

Nah, nangkep apa yang mau saya sampein? Mungkin belum... tapi gini.. selama ini, Lafadz Insya Allah identik dengan kepasrahan. Seolah-olah Insya Allah berarti, "susah nih kayaknya... semoga Allah ngasih pertolongan.." Tetapi, menurut saya, lafadz Insya Allah berarti, "Oke! Rencana sudah matang, semoga Allah mengizinkanku melaksanakannya."

Jadi, menurut saya, merupakan kesalahan jika kita under-estimate terhadap orang yang berkata 'Insya Allah'. Dan sebaiknya juga kita tidak berkata 'Insya Allah' saat kita merasa tak sanggup. 


Allah berfirman pada akhir surat Al-Kahfii :

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya-Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Jadi, jika kita merasa tak sanggup, lebih baik katakan "Maaf, saya tidak bisa." atau "Saya ragu saya bisa." Tetapi, jika kita merasa bisa, barulah kita katakan 'Insya Allah'. Karena itu berarti, 'kita sudah merencanakan semuanya, tinggal apakah Allah membolehkan atau tidak.'

Saya ingin bercerita. Suatu hari, saat sekolah sudah libur, saya dan beberapa teman berkumpul di sekolah untuk merencanakan acara perpisahan sekolah. Ya, kami kelas 3 SMP (kelas 9 SMP lebih tepatnya) dan beberapa hari lagi kami harus menampilkan pertunjukan di acara perpisahan.

Merasa sudah bebas, saya pun pergi ke sekolah menggunakan pakaian bebas (dan sopan tentunya). Saya melewati gerbang, dan akhirnya berjalan hingga ke kelas. Di depan kelas, beberapa teman saya telah menunggu. Dan teman-teman saya ini mengenakan seragam sekolah. Kami pun berkumpul di depan kelas. Saat tengah asyik berbicara, seorang guru datang.

"Firdaus! Kamu kok pake baju bebas?"
Saya berjalan ke arah guru itu, "Kan udah ga belajar lagi, bu."
"Tapi kamu tetep harus make baju seragam. Nanti kalo ga make seragam, surat-surat kamu ga bisa diurus."
Beberapa saat, saya berdebat dengan guru tersebut (kenapa? emang aturannya aneh kan?) dan saya pun mengalah.
"Inget, besok kalo kamu ke sekolah lagi, kamu harus pake seragam!" dan guru itu menjauh.
"Oke Bu, Insya Allah." saya menjawab. Dalam hati, saya menurutinya.
Saya kira itu sudah selesai... sampai dia berkata, "Kok Insya Allah sih!"

Nah loh... kenapa guru itu marah pas saya bilang Insya Allah? Memang, guru tersebut beragama non-islam, tetapi ia tidak salah jika ia kesal. Inilah ironinya: Orang yang beragama di luar islam salah memahami maksud Insya Allah karena mereka melihat kita yang muslim. Mereka melihat kita menggunakan kata 'Insya Allah' saat kita putus asa. Mereka melihat kita menggunakan 'Insya Allah' untuk mengganti kata 'Semoga aja, gue ga yakin'.

Insya Allah adalah sebuah lafadz yang luar biasa! Bukan sebuah lafadz yang menggambarkan kelemahan. Bahkan dikisahkan bahwa tembok ya'juj dan ma'juj akan jebol karena lafadz 'Insya Allah.'

Yuk, kita perbaiki kesalahan makna Insya Allah. Sebisa mungkin, ucapkanlah Insya Allah jika kita yakin, bukan kita ragu. Mari kita ubah dogma berpikir kita, sebelum kesalahan ini makin menjadi kesalahpahaman yang parah. Share dan ingatkan orang lain tentang ini.

Wallahu'alam

4 comments:

  1. tapi tulisan arab diatas salah dan artinya jauh banget bahkan bertentangan karena tulisan diatas artinya menciptakan Allah (naudzubillah min dzalik)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naudzubillah... memang bagaimana yang benar gan?

      Delete
    2. Harusnya gini gan
      ان شاءالله

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete